Si Pipit dan Rekayasa Riba

Sebuah kisah akal-akalan riba

Rekayasa Riba

Si Pipit dan Rekayasa Riba

Pesona bu Pipit makin berkibar namanya di dunia bisnis. Namanya makin moncer berkat refferal yang dilakukan ibu-ibu arisan sebagai pengusaha akhirat yang telah taubat dari riba yang terlaknat. Terlebih lagi, bu Sri (nama panjangnya Srigunting) turut serta menyebarluaskan ‘pertaubatan’ dan ‘kehebatan’ bu Pipit hingga jadi viral di dumay. Inilah model terbaik seorang pengusaha idaman, begitu mungkin pikiran bu Sri. Kaya, sukses, cantik, sholihah dan anti riba.

Beberapa bulan lalu, dinda Merpati berkesempatan bertatap muka langsung dengan bu Pipit dalam suatu forum investor. Sebagaimana janji dinda Merpati untuk saling mengingatkan, kesempatan tersebut dimanfaatkan dengan baik untuk berdiskusi bersama bu Pipit. Tibalah saatnya, bu Pipit presentasi dihadapan 30-an ibu-ibu pengusaha dan investor.

“Ibu-ibu, saya menawarkan skema investasi baru yang insyaallah ini adalah skema yang adil, aman dan tetap menguntungkan..”, bu Pipit memulai presentasinya. “Saat ini, saya memiliki 100 unit motor. Saya menawarkan kepada ibu-ibu skema gadai. Tapi ini bukan gadai sembarang gadai. Ini gadai saham syariah..”, lanjutnya.

“Maksud gadai syariah itu seperti apa bu Pipit..?”, potong bu Nuri yang sedari tadi penasaran.

“Jadi begini, BPKB motor saya, akan saya tawarkan kepada ibu-ibu calon investor. Saya gadaikan kepada ibu-ibu. Saya hanya menerima mereka yang berinvestasi dengan jumlah minimal 10 juta rupiah. BPKB tersebut nanti kita taruh di Bank Syariah biar aman dan berkah..”, jelas bu Pipit.

“Trus bu..?”, sergah bu Nuri tidak sabar.

“Bagi ibu-ibu yang berinvestasi 10 juta, saya akan berikan return fix sebesar 27% dari modal yang diinvestasikan dalam setahun. Jadi, kalau ibu-ibu investasi 10 juta maka pada tahun pertama akan mendapat return 2,7 juta. Jadi total dengan modal pokoknya, ibu akan terima sebesar 12,7 juta.”, jelas bu Pipit.

“Wow, lumayan juga ya ? Jauh lebih besar dari bunga deposito ya bu ?”, celetuk bu Garda. Nama panjangnya bu Garuda Nusantara kiki emotikon

“Bu Pipit, apakah ada pilihan lain bagi kami sebagai calon investor. Misalnya motor itu benar-benar kita beli..?”, tanya dinda Merpati mulai menelisik.

“Ooooh tidak ada. Kami membatasi dengan skema itu saja. Tapi ibu-ibu bisa pilih mau ikut setahun atau dua tahun. Jika setahun returnya 27%, jika milih dua tahun returnya 54% dari modal yang diinvestasikan”, jelas bu Pipit. “Artinya, ibu-ibu wajib menjual kembali saham tersebut ke saya setelah satu atau dua tahun. Sekarang saya jual ke ibu, lalu saya beli kembali setelah satu tahun dengan return yang besar..”, tambahnya.

“Bukankah itu sama artinya bu Pipit minjam duit ke kami 10 juta dan akan dikembalikan 12,7 juta dalam setahun..?”, tanya bu Nuri mulai kritis.

“Iya bu Pipit, bukankah seperti itu gak ada bedanya dengan bunga riba, bu..?”, dinda Merpati menambahkan.

“Dinda Merpati, mengenai pertanyaan dinda, itu sudah saya tanyakan ke pak Betet selaku sesepuh di desa kita. Kata beliau, tidak masalah. Skema ini halal..”, jawab bu Pipit.

“Tapi bu, saya khawatir ibu melakukan skema yang mirip dengan Bay’ Inah. Helah riba itu skema akal-akalan tapi faktanya oleh para ulama tetap dihukumi sebagai riba. Saya sarankan ibu kaji kembali skema itu..”, kata dinda Merpati berusaha menjelaskan.

“Pokoknya kata pak Betet, skema ini boleh dan halal. Dan beliau siap bertanggungjawab. Saya ngikut pendapat beliau. Cukup ya..”, jawab bu Pipit singkat. “Terus terang saya sedang perlu modal besar. Gimana ibu-ibu yang lain, ada yang berminat beli saham yang saya tawarkan..?”, lanjut bu Pipit.

“Iya bu saya ikutan. Sebenarnya saya juga tidak butuh motor, apalagi cuma BPKB-nya. Tapi return 27% itu sangat menarik buat saya. Daripada duit saya depositokan, lebih besar bunga yang ibu Pipit tawarkan..”, sahut bu Garda.

“Gimana bu Nuri, kalau ibu beli saham saya 250 juta, return-nya 40% setaun lho bu..”, lirik bu Pipit ke bu Nuri.

“40% setahun..? Wow, boleh-boleh bu, saya ikutan dech..”, jawab bu Nuri

Pusing ‘kan..?
Mumet ‘kan..?
Helah/Hilah adalah tipu daya atau rekayasa hukum, yang hukum awalnya haram tetapi dikemas menjadi seolah-olah boleh dan halal. Sesungguhnya, helah adalah tabiat orang-orang Yahudi.

Dalam hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

قَاتَلَ اللهُ الْيَهُودَ، إِنَّ اللهَ لَـمَّا حَرَّمَ شُحُومَهَا جَمَلُوهُ ثُمَّ بَاعُوهُ فَأَكَلُوا ثَمَنَهُ

“Allah memerangi Yahudi, sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas mereka lemak bangkai, namun mereka (siasati dengan) mencairkan lalu mereka jual dan mereka memakan hasil penjualannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Akan datang suatu saat nanti kepada ummat ini tatkala orang-orang menghalalkan riba dengan dalih perdagangan.” (HR Ibnu Bathah)

Kelak, mereka tidak akan bisa lagi melempar dosa dan kesalahannya kepada orang lain yakni orang-orang yang diikuti pendapatnya :

“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa, dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.
Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti, ‘Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami’.
Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka..” (TQS Al Baqarah : 166 – 167)

Bagaimana..?
Masih mau ngakali haramnya Riba..?
Masih mau promosiin pengusaha yang katanya anti riba..? Padahal sesungguhnya yang dilakukan tetaplah riba..?

Salam BEBAS RIBA

Rumah Tanpa Riba
Tanpa Rekayasa
Tanpa Tipu Daya.

Muhammad Rosyidi Aziz Full

Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>