Jebakan Agunan

Jebakan Agunan

Jebakan Agunan

Pada umumnya konsep KPR selalu menjadikan properti yang dibeli nasabah sebagai jaminan atas utangnya dalam pembelian properti tersebut. Karenanya, pihak bank menahan sertifikat properti yang dibeli sebagai jaminannya. Muamalah seperti ini dilarang oleh Islam.

Dalam kitab Al-Hawi al-Kabir, sebagaimana dinukil oleh al-Marudi, Imam as-Syafi’i menyatakan: “Kalau penjual-pembeli mensyaratkan agar barang yang dibeli tersebut sebagai agunan (jaminan), maka akad jual-beli tersebut batal, dari aspek bahwa barang yang dibeli tersebut berstatus tersandera bagi pembelinya.”

Imam Ibnu Qudamah juga yang menyatakan: “jika dua orang berjual beli dengan syarat menjadikan barang yang dibeli sebagai jaminan atas harganya, jual belinya tidak sah. Sebab jika barang yang dibeli dijadikan jaminan (rahn), berarti barang itu belum menjadi milik pembeli. ” (Al-Mughni, 4/285).

Imam Ibnu Hajar Al-Haitami juga berkata,“Tidak boleh jual beli dengan syarat menjaminkan barang yang dibeli.” (Al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubra, 2/287).

Barang yang dijual secara kredit secara syar’i telah menjadi milik pembeli, meskipun baru membayar DP.

Di sisi lain, banyak kasus di mana nasabah KPR yang wanprestasi (tidak mampu membayar cicilan lagi), maka pihak bank menyita properti yang dijadikan jaminan. Nasabah lalu harus ‘angkat kaki’ dari rumah tersebut, karena pihak bank akan melelang atau menjualnya. Karena nasabah dianggap (akad) sebagai penyewa, maka uang setoran nasabah selama mencicil tidak dikembalikan, dan dianggap uang sewa. Kalaupun over-credit, nasabah hanya akan mendapat sebagian uang yang telah disetorkan, karena dipotong oleh beragam biaya dan denda.

Hal tersebut menunjukkan bahwa nasabah telah terhalangi dari kepemilikan properti yang dikredit yang sekaligus menjadi agunannya. Ia tidak memiliki hak untuk menjualnya sendiri, apalagi berhak atas kelebihan harga jualnya. Hal ini menyalahi ketentuan syara’:“Agunan itu tidak boleh dihalangi dari pemiliknya yang telah mengagunkannya. Ia berhak atas kelebihannya, dan wajib menanggung kekurangannya.”(HR Syafi’i, al-Bayhaqi, al-Hakim, Ibn Hibban dan ad-Daruquthni).

Source DPI

Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>